Siapa Saja yang Menjadi Prioritas Melakukan Test Corona?

Virus Corona telah menjadi momok mengerikan di Indonesia dan banyak negara lainnya di dunia. Setelah menginfeksi China dengan jumlah kematian lebih dari 3.000 orang, kini Corona merebak di berbagai negara lain termasuk di Indonesia. Hingga saat ini Indonesia mencatatkan sekitar 1.700 kasus positif Covid19 dengan angka kematian yang cukup tinggi yaitu hingga 9% lebih. Untuk menanggulanginya, pemerintah memilih melakukan tes massal atau rapid test sehingga dapat mengidentifikasi pasien positif corona dengan lebih cepat sehingga dapat mengobatinya dan mencegah penularan dengan melakukan isolasi. Alat test corona massal ini didatangkan dari Korea Selatan dan China diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia yang memiliki resiko tinggi.

Seperti diketahui bahwa virus Corona akan mengakibatkan seseorang yang terinfeksi merasakan gejala seperti batuk, pilek, demam dan sesak nafas. Namun tak semua orang memiliki gejala tersebut setelah terinfeksi corona. Seseorang dengan sistem imun yang kuat meski sudah terinfeksi covid19 bisa saja tidak memiliki gejala sakit apapun atau hanya batuk sesekali saja. Namun meski begitu, ia bisa tetap menularkannya pada orang lain sehingga disebut sebagai carrier atau Pembawa. Jika carrier ini tidak terdeteksi, ditakutkan ia bisa menularkan virus ke banyak orang lainnya dengan sifat virus yang memang mudah sekali menular ke orang lain melalui tetesan droplet penderita.

Pemerintah telah menyiapkan alat test virus corona untuk mencegah penularan ke masyarakat lebih luas. Akan tetapi tentu saja penggunaannya harus diatur dengan memprioritaskan bagi mereka yang memiliki resiko besar terinfeksi virus corona. Lalu siapakah yang memiliki prioritas tersebut? Berikut ini adalah mereka yang diprioritaskan untuk menggunakan test terlebih dahulu:

1.    Tenaga medis dan keluarganya.
Tenaga medis tentu memiliki resiko yang paling besar terkena infeksi virus corona karena setiap harinya mereka menangani pasien positif maupun suspect corona. Bahkan hingga saat ini jumlah tenaga medis yang terinfeksi sangat besar hingga menyebabkan kematian yang cukup besar. Dengan adanya tes corona, tenaga medis yang terpapar dapat langsung diketahui dan diberikan perawatan.

2.    Pasien dalam pantauan.
Pasien yang sudah berada di rumah sakit dan memiliki gejala mirip dengan gejala virus corona pastinya berada di urutan prioritas sehingga dapat ditangani dengan maksimal.

3.    Riwayat kontak dengan pasien positif.
Pemilik resiko terbesar kedua adalah mereka yang memiliki riwayat kontak dekat dengan pasien positif corona. Mereka ini biasanya adalah keluarga, rekan kerja atau tetangga.

4.    Masyarakat di lokasi zona merah.
Masyarakat yang berada di lokasi zona merah dengan angka kasus dan kematian tinggi juga memiliki prioritas untuk segera di test agar dapat dilakukan pencegahan dengan isolasi.

5.    Orang dalam pantauan.
ODP sering kali bukan merupakan masyarakat di wilayah zona merah namun pernah berinteraksi dengan pasien positif corona.

Selain golongan masyarakat tersebut di atas, jajaran pemerintahan juga memiliki prioritas untuk melakukan test karena beban pekerjaan yang harus tetap dijalankan. Saat ini alat test corona telah didistribusikan ke berbagai daerah zona merah untuk menekan angka penularan yang sangat massif. Setelah kurang lebih satu minggu melakukan tes massal, Indonesia mencatatkan angka kasus yang melonjak drastis karena penemuan pasien positif saat tes. Dengan begitu mereka yang positif bisa langsung di karantina dan dirawat agar sembuh serta tidak menjadi sumber penularan ke orang lain. Diharapkan dengan test yang juga massif ini, penularan virus corona dapat ditekan seluruhnya sehingga kondisi kesehatan masyarakat bisa kembali seperti semula.
Siapa Saja yang Menjadi Prioritas Melakukan Test Corona? | Abang Zaen | 5